Lubuk jiwaku laksana suatu dunia yang luas dan indah; di sana Allah dan aku hidup bersama. Selain Allah, tidak seorang pun diizinkan masuk ke dalamnya. Pada permulaan kehidupan bersama Allah ini, aku ketakutan dan silau. Sinar cemerlang Allah membutakan mataku, dan aku pikir Ia tidak ada di dalam hatiku. Tetapi, itulah saat-saat Allah sedang bekerja di dalam jiwaku. Kasih menjadi makin murni dan semakin kuat, dan Tuhan membawa kehendakku ke dalam kesatuan yang amat erat dengan kehendak kudus-Nya sendiri.

Tidak seorang pun akan memahami apa yang kualami dalam istana jiwaku yang cemerlang ini. Di sana, aku tinggal terus-menerus bersama kekasihku. Tak ada hal-hal lahiriah yang menghalangi kesatuanku dengan Allah. Bahkan kalaupun aku menggunakan kata-kata yang paling ampuh, kata-kata itu bahkan tidak mampu mengungkapkan suatu bayangan pun dari realitas bagaimana jiwaku bersuka-ria dalam kebahagiaan dan kasih yang tak terperikan, sebesar dan semurni mata air dari mana ia mengalir, yakni Allah sendiri.

Rohku sedemikian dirasuki oleh Allah sehingga aku merasakannya secara fisik, dan tubuhku ikut merasakan sukacita ini. Memang, dapat terjadi bahwa sentuhan Allah itu amat beragam dalam jiwa yang sama tetapi semua itu berasal dari mata air yang sama. BHF 582

Lubuk jiwaku laksana suatu dunia yang luas dan indah; di sana Allah dan aku hidup bersama. Selain Allah, tidak seorang pun diizinkan masuk ke dalamnya. Betapa indahnya ungkapan Faustina dalam BHF 582 ini. Ia sedang berbicara tentang lubuk jiwanya sendiri. Sebuah dunia yang luas dan indah, tempat Allah dan dirinya hidup bersama.Sebuah ruang batin yang begitu dalam, begitu sunyi, hening, begitu mesra, sehingga tidak seorang pun diizinkan masuk ke dalamnya selain Allah.

Aku bertanya kepada diriku sendiri, adakah tempat seperti itu di dalam jiwaku? Sebuah ruang yang sungguh-sungguh hanya milik Allah. Tempat di mana aku dapat datang kapan saja, berbicara dari hati ke hati dengan-Nya, tanpa diganggu oleh kesibukan, kecemasan, ataupun berbagai suara dari luar.

Pada awalnya Faustina merasa takut dan silau oleh kehadiran Allah. Betapa manusiawinya pengalaman itu. Namun, Allah tetap bekerja, bahkan ketika Faustina merasa seolah-olah Ia tidak hadir. Kasih-Nya terus memurnikan hati Faustina, membawa kehendaknya semakin menyatu dengan kehendak Allah. Barangkali inilah tujuan hidup rohani yakni bukan mencari pengalaman luar biasa, yang spektakuler, melainkan membiarkan Allah semakin memenuhi lubuk jiwa, sampai akhirnya kehendak diri semakin menyatu dengan kehendak-Nya. Dan lahirlah damai, sukacita, dan kebahagiaan yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata, karena semuanya bersumber dari Allah sendiri.

Merenung semua ini, aku diingatkan Faustina untuk lebih sering bahkan selalu harus masuk ke dalam “istana jiwaku”, untuk bertemu dengan Dia yang telah lebih dahulu tinggal di sana. Mungkin selama ini aku lebih sibuk mencari Tuhan di luar, padahal Ia sudah menungguku di dalam.
Yesus, Engkau andalanku.