SABTU, PEKAN BIASA IX
2Tim 4:1-8; Mzm 71:8-9.14-15ab.16-17.22; Mrk 12:38-44
Hari ini liturgi menutup pekan ini dengan pesan kuat tentang kesetiaan sampai akhir. Paulus berbicara tentang perjuangan iman yang telah ia jalani, Mazmur menegaskan kepercayaan kepada Allah sepanjang hidup, dan Injil menunjukkan teladan seorang janda miskin yang memberi dengan hati. Bacaan ini selaras dengan teladan para martir dan orang kudus yang setia sampai akhir hidup mereka.
Di bait Allah, Yesus mengingatkan setiap orang supaya berjaga-jaga terhadap bahaya kemunafikan seperti yang dilakukan oleh para ahli kitab. Mereka berdoa panjang-panjang dan keras supaya dilihat orang. Namun mereka tidak berlaku adil terhadap orang lain. Pada kenyataan ini Yesus menunjukkan janda miskin sebagai contoh iman dan makna hidup beragama. Ia memberi semuanya yang dimilikinya, seluruh nafkahnya kepada Allah. Hal ini dilakukannya karena dia percaya bahwa Allah yang menyelenggarakan hidupnya. Ia berpasrah seutuhnya kepada Allahnya.
Sebagai seorang pewarta, Timotius diingatkan untuk tetap setia, siap sedia selalu. Ia harus memiliki keberanian untuk berjuang dan memiliki kemampuan untuk mengolah kehidupan. Sehingga ia dapat menjadi saksi dalam situasi apapun.
Bagaimana aku telah membina imanku? Sejauh mana aku telah mengolah hatiku untuk membina sikap iman dalam kesetiaan dan kesiapsediaan hidup imanku?
Hari ini kita diajak untuk meneladani Paulus yang setia sampai akhir, pemazmur yang selalu memuji Allah, dan janda miskin yang memberi dengan hati. Hidup iman adalah perjalanan menuju mahkota kebenaran, yang hanya dapat dicapai dengan kesetiaan dan kasih.Mari selalu membina iman kita. Mari selalu mengolah hati kita untuk membina sikap iman dalam kesetiaan dan kesiapsediaan hidup iman.
Tuhan memberkati.*RD AMT
Recent Comments