Dengan sukacita dan sekaligus kepedihan, aku menempelkan bibirku pada piala kepahitan yang setiap hari aku terima di dalam misa kudus. Itulah bagian yang setiap kali telah disisipkan Yesus bagiku, dan aku tidak akan mengalihkannya kepada seorang pun.Aku akan terus-menerus menghibur Hati Ekaristis yang teramat manis dan akan memainkan lagu yang indah pada senar-senar hatiku. Penderitaan adalah lagu paling merdu di antara semua lagu. Hari ini, dengan gigih aku akan mencari apa yang dapat membuat Hati-Mu bersukacita! Hari-hari hidupku penuh dengan variasi. Apabila awan kelam menutup matahari, laksana rajawali aku akan berusaha menyibak gugusan awan itu dan menunjukkan kepada semua orang bahwa matahari tidak padam. ( BHF 385)

“Hari ini, dengan gigih aku akan mencari apa yang dapat membuat Hati-Mu bersukacita.” Kalimat Faustina ini sangat menyentuh hatiku. Juga kalimat lain: “Penderitaan adalah lagu paling merdu.” Dua kalimat ini menyentuhku, sekaligus membuatku merenung lama. Bagi Faustina, penderitaan adalah lagu paling merdu untuk menghibur Hati Ekaristis. Aku sungguh tak berani banyak berkata tentang penderitaan. Dalam kejujuran hatiku, aku sadar bahwa sampai saat ini aku masih belum berani menderita banyak dalam beberapa cara dan bentuk tertentu. Jika penderitaan itu dimengerti sebagai sebuah semangat pengorbanan yang tulus dan sungguh, barangkali aku baru mampu memahami dan menjalaninya dalam bentuk lyang lebih halus, lebih kecil, dari yang seharusnya.

Namun aku terhibur oleh ungkapan Faustina yang lain : hari-hari hidupku penuh dengan variasi.  Kalimat ini membuatku merasa lega.dan bersyukur. Mungkin memang benar, hidup tidak selalu berisi hal-hal besar dan heroik..Justru dalam variasi harian itulah Tuhan hadir dan menunggu tanggapan hatiku yang tulus.

Karena itu, hari ini aku ingin sepakat dengan diriku sendiri, dengan sekuat kemampuan, aku akan gigih berjuang mencari apa yang dapat membuat Hati Tuhanku bersukacita dalam keseharian tugas pelayananku. Jika penderitaan yang besar belum mampu kupersembahkan, aku akan mulai dari apa yang bisa kulakukan. Aku bisa berbagi dengan sukacita. Aku bisa mengajar dengan baik dan sabar.
Aku bisa melakukan pekerjaan rumah tangga dengan tekun, tanpa mengeluh.
Aku bisa berdoa dengan tenang dan khusyuk untuk berbagai ujud.
Aku bisa menolong orang lain yang membutuhkan.
Aku bisa tidak menyerah ketika gagal, tidak mudah marah, lebih penuh pengertian, dan lebih mudah mengampuni. Dan
masih banyak hal sederhana lainnya yang dapat kulakukan untuk membuat Hati Tuhan bersukacita.

Justru karena hidupku penuh variasi, sebagaimana diungkapkan Faustina, kutemukan ternyata aku memiliki banyak kesempatan untuk memberi, untuk menyenangkan hati Tuhan dan mungkin membuat hati-Nya bersukacita. Siapa tahu, di dalam semua itu tersembunyi pengorbanan-pengorbanan kecil, jalan derita yang selama ini kutakuti, yang perlahan kulewati tanpa kusadari.

Aku belum mampu mempersembahkan yang besar. Tetapi yang kecil dan sederhana ini ingin kujadikan jalan kecil menuju keberanian untuk suatu hari kelak minum piala derita bersama-Nya. Aku percaya, sekecil apa pun usahaku untuk menghibur Hati Tuhan, pasti berkenan kepada-Nya. Bukan karena aku mampu, tetapi semata-mata karena kasih karunia dan kerahiman-Nya. Yesus, Engkau andalanku. *hm