Pada petang hari, aku berjalan-jalan di kebun sambil mendaras rosario. Ketika sampai di tempat pemakaman, aku membuka pintu sedikit, lalu berdoa sejenak, dan dalam batin aku bertanya kepada mereka yang dimakamkan di situ, “Kamu semua sudah sangat bahagia, bukan?” Kemudian aku mendengar suara, “Kami bahagia sebatas kami telah memenuhi kehendak Allah.” Kemudian suasana menjadi hening seperti sebelumnya. Aku mawas diri dan merenung cukup lama mengenai bagaimana aku memenuhi kehendak Allah dan bagaimana aku memetik manfaat dari waktu yang telah diberikan Allah kepadaku. (BHF 515)

Merenungkan BHF 515 ini, saya sangat tertarik dengan tiga latihan rohani yang dilakukan Faustina pada saat itu: berjalan-jalan di kebun sambil berdoa rosario, mawas diri, dan merenung cukup lama. Ya… Faustina merenungkan hidupnya dalam terang kehidupan kekal, setelah memperoleh pencerahan dari jawaban jiwa yang disapanya di pemakaman biara. Kematian memang menjadi pengingat bahwa hidup ini singkat dan pada akhirnya kita akan mempertanggungjawabkan semua waktu yang dianugerahkan Tuhan secara cuma-cuma sepanjang hidup. Waktu bukan sesuatu yang boleh disia-siakan. Setiap hari, bahkan setiap detik hidup ini, merupakan kesempatan untuk bertumbuh dalam kasih, kesetiaan, dan melakukan kehendak Allah.

Menarik bagiku, sesudah pengalaman itu Faustina langsung mawas diri dan berefleksi batin. Ia tidak sibuk memikirkan orang lain atau mengenang jiwa-jiwa yang sudah berpulang itu, tetapi langsung memeriksa batinnya sendiri: apakah ia sungguh memenuhi kehendak Allah dan menggunakan waktu dengan bijaksana. Ini mengingatkan saya juga bahwa sering kali banyak waktu terbuang sia-sia untuk memikirkan hal-hal yang tidak berguna tentang orang lain, yang sebenarnya tidak dibutuhkan lagi, daripada mawas diri dan memeriksa batin untuk menggali makna hidup. Kadang ada orang yang tidak terbiasa refleksi diri atau mawas diri sebagai respons atas peristiwa tertentu yang terjadi. Tetapi justru yang dipikirkan adalah hal-hal yang bukan-bukan tentang seluk-beluk peristiwa atau tentang orang tertentu. Sia-sia.

Betapa bermaknanya waktu ini jika sekiranya jiwa selalu terjaga untuk merenung, refleksi, mawas diri, dan berdoa sejenak seperti Faustina, kapan dan di mana pun. Di kebun ketika sedang berjalan-jalan, di dapur, dalam perjalanan saat berkendaraan, ketika mata memandang sesuatu dan hati tersentuh, saat membaca koran, mendengar berita di televisi, atau bahkan sekadar scrolling lalu menemukan banyak berita yang sebenarnya perlu didoakan, direfleksikan, dan direnungkan demi transformasi diri dan perkembangan iman. Syukur-syukur jika akhirnya juga berguna bagi orang lain.

Merenungkan ini, saya jadi ingat dan prihatin bahwa sekarang banyak orang lebih tertarik pada jebakan media sosial: like, komentar, share, tanpa diikuti refleksi, permenungan, mawas diri, doa, dan pertobatan untuk menata batin yang lebih baik. Banyak hal indah dialami, banyak hal menyentuh hati, tetapi kadang hanya berhenti pada sekadar mengambil momen untuk diabadikan dalam galeri. Bahkan yang lebih memprihatinkan, dengan sedikit kreativitas orang bisa menyebarkan kepalsuan. Sia-sia.

Ya… hidup rohani sungguh membutuhkan keheningan dan permenungan, doa dan latihan rohani lainnya sebagaimana diteladankan Faustina hari ini. Keheningan, permenungan, mawas diri, dan doa sangat membantu kita untuk mendengar suara hati yang jernih, mendengar suara Allah, merasakan jamahan Roh Kudus, memandang hidup dalam terang iman, mengenal dan bergegas melakukan kehendak Allah.

Tidak mudah hidup pada masa kini. Namun saya percaya Roh Kudus tetap membimbing. Datanglah Roh Kudus, penuhilah hatiku dengan cinta-Mu. Baharuilah hati, budi, roh, dan jiwaku agar menjadi baru untuk menjadi saksi kasih-Mu.
Terima kasih Faustina atas pelajaran indah hari ini.
Yesus, Engkau andalanku.