Pada malam hari yang sama, ketika aku sudah pergi tidur, suatu jiwa datang kepadaku. Ia membangunkan aku dengan mengetuk-ngetuk pada laci meja dan minta kepadaku untuk mendoakannya. Aku ingin bertanya siapa dia tetapi aku mengendalikan rasa ingin tahuku, dan mati raga kecil ini kupadukan dengan doaku dan kupersembahkan bagi dia. (BHF 516)

Aku ingin bertanya siapa dia tetapi aku mengendalikan rasa ingin tahuku, dan mati raga kecil ini kupadukan dengan doaku dan kupersembahkan bagi dia.”* Merenungkan BHF 516 ini, aku memahami bahwa sungguh kasih Faustina melampaui batas yang ada di dunia ini. Sungguh hidupnya untuk Allah dan jiwa-jiwa. Betapa besar kepekaan rohaninya terhadap kebutuhan jiwa lain. Ia tidak mengabaikan pengalaman ini, tetapi segera menanggapinya dengan doa dan pengorbanan kecil. Faustina juga tetap fokus pada tujuannya, yakni berdoa dan berkorban bagi jiwa-jiwa. Ketika muncul rasa ingin tahu, ia segera sadar dan mengendalikannya. Ia tidak mau membuang waktu dan perhatian hanya untuk sekadar memenuhi rasa ingin tahu. Inilah mati raga batin: mengesampingkan rasa ingin tahu dan segera memilih berdoa.

Saya membayangkan, saat masih hidup saja Faustina begitu tekun mendoakan jiwa-jiwa. Tentu saja kini di surga pun, siapa saja yang memohon doa melalui perantaraannya pasti didoakannya. Saya sangat tertarik merenungkan tentang pengorbanan kecil yang disebut Faustina sebagai mati raga kecil yang dipadukan dengan doa dan dipersembahkan bagi jiwa yang memohonnya.

Bagiku, inilah jawaban atas refleksiku pada BHF 515 kemarin, tentang bagaimana agar waktu tidak berlalu sia-sia. Bagaimana membangun kepekaan terhadap kebutuhan jiwa-jiwa yang kita lihat, kita temui, dan kita alami? Saya rasa jawabannya ada di sini: berhenti terlalu sibuk mencari tahu latar belakang dan alasan-alasan, apalagi menganalisis macam-macam hal yang belum tentu berguna. Yang terbaik seperti Faustina: mengendalikan rasa ingin tahu, melakukan mati raga kecil, lalu memadukannya dengan doa dan mempersembahkannya kepada Tuhan yang Maha Tahu, penuh kasih kerahiman, yang punya kuasa atas segala sesuatu dan sanggup menolong jiwa-jiwa, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Doa bagi jiwa-jiwa yang telah meninggal sungguh penting bagi Faustina, meski hanya satu jiwa yang memintanya, sebab mereka tidak sanggup lagi menolong dirinya sendiri. Belas kasih Faustina melalui doa dan mati raga kecil itu, saya percaya, sungguh berkenan kepada Tuhan.

Setiap Minggu, bahkan hampir setiap hari, kita mendengar nama-nama jiwa dibacakan di gereja untuk didoakan keselamatannya, tentu dimintakan oleh sanak keluarganya. Saya sendiri sering mendengarkannya dengan sungguh-sungguh, meski sama sekali tidak mengenal mereka. Bersama doa-doaku dalam perayaan Misa, saya membawa mereka semua yang disebutkan namanya kepada Tuhan. Beberapa imam sering mengatakan dalam persiapan persembahan: “Marilah kita satukan seluruh ujud doa pribadi dan intensi yang dipersembahkan dalam misa ini dengan korban Kristus di altar.” Saya percaya, andaikan setiap umat dalam gereja — misalnya ada 500 orang — sungguh ikut mempersembahkan jiwa-jiwa yang didoakan itu bersama korban Kristus di altar, betapa bahagianya jiwa-jiwa itu karena begitu banyak yang mendoakannya.

Namun saya juga sering berpikir: ada jiwa-jiwa yang masih diingat dan didoakan keluarganya. Bagaimana dengan jiwa-jiwa yang sudah jarang atau bahkan tidak pernah didoakan lagi karena tidak ada lagi sanak keluarga yang mengingat mereka? Ya… kita juga perlu mendoakan semua jiwa-jiwa malang itu kepada Tuhan. Dikenal ataupun tidak dikenal, disebutkan namanya ataupun tidak. Saya selalu percaya bahwa setiap doa yang dipersembahkan kepada Tuhan demi keselamatan jiwa-jiwa, bukan hanya berguna bagi mereka yang didoakan, tetapi pasti juga berdaya guna bagi diri kita sendiri. Hati menjadi lebih murah hati untuk berdoa, dan waktu doa menjadi lebih bermakna daripada dipakai untuk hal-hal yang sia-sia.

Kadang saya juga berpikir, kalau suatu hari nanti saya sudah meninggal, apakah masih ada yang akan mendoakan saya secara khusus seperti itu? Itu nanti utusannya. Namun doa tidak pernah sia-sia. Berdoa tanpa jemu-jemu untuk jiwa-jiwa. Kalau Faustina didatangi jiwa yang memohon doa dengan mengetuk laci mejanya, saya yang tidak memiliki intuisi batin seperti itu pun sering mengalami hal sederhana: tiba-tiba teringat seseorang saat berdoa, entah anggota keluarga, teman, orang yang dikenal, atau bahkan orang yang hanya diketahui dari berita. Saya percaya, mungkin mereka sedang membutuhkan doa. Saat mendengar sirene mobil jenazah melintas di jalan, atau ketika melewati pemakaman, saya sering diingatkan kembali betapa singkat dan fananya hidup ini. Betapa malangnya jiwa-jiwa andaikan belum selamat. Maka saya berdoa bagi mereka. Sesederhana itu. Namun lewat pengalaman Faustina, saya mau belajar lebih lagi yakni bukan hanya berdoa untuk jiwa-jiwa, tetapi juga harus mulai terus mawas diri dan membaharui diri,mempersiapkan diri sendiri — sudah sejauh mana aku melakukan kehendak Allah?

Sungguh indah kasih Tuhan bagi Faustina, bagi jiwa-jiwa, dan pasti juga bagiku dan kita semua. Semoga Roh Kudus memenuhi hati dan membarui diriku dengan hati yang baru, agar semakin murah hati dalam doa dan mati raga kecil bagi jiwa-jiwa yang membutuhkan.
Yesus, Engkau andalanku.