Surat-Menyurat
Setiap suster boleh menulis surat tertutup kepada pimpinan Gereja setempat yang beranggung jawab atas biara yang bersangkutan. Untuk setiap surat yang lain, dituntut izin, dan suster hendaknya menyerahkan surat itu kepada superior dalam keadaan terbuka. Superior harus dibimbing oleh roh kasih dan kebijaksanaan, dan memiliki hak untuk mengirim atau tidak mengirim surat itu, demi semakin besarnya kemuliaan Allah. Tetapi, aku akan sangat senang kalau surat-menyurat itu dilakukan sejarang mungkin. Marilah kita menolong umat dengan doa dan mati raga, dan tidak dengan surat-menyurat • BHF 556

Marilah kita menolong umat dengan doa dan mati raga, dan tidak dengan surat-menyurat.” Membaca kalimat ini, aku tidak bisa tidak membandingkannya dengan keadaan zaman sekarang. Kalau pada masa Faustina yang dimaksud adalah surat-menyurat, hari ini mungkin dapat dikatakan lebih baik dengan doa dan mati raga, daripada dengan WA, chat, inbox, email, atau media sosial. Tentu bukan berarti semua itu tidak baik. Justru semuanya sangat membantu komunikasi. Namun, bila tidak digunakan dengan bijaksana, semuanya dapat menjadi bumerang yang mengganggu keterarahan hati kepada Tuhan.

Aku teringat masa formasi dasarku dahulu. Saat itu, surat-menyurat sangat dibatasi bahkan masa novisiat, tidak diperbolehkan sama sekali. Kami hampir tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di rumah, lingkungan sekitar, dan keluarga pun tidak mengetahui secara rinci kehidupan kami di biara. Aku masih ingat pesan ayahku yang sangat sederhana saat masuk biara : Kita bertemu dalam doa.”Kalimat itu menjadi kekuatan bagiku. Dengan tidak mengetahui banyak hal, aku belajar menyerahkan keluargaku kepada Tuhan. Aku tidak larut dalam kecemasan, tidak sibuk memikirkan berbagai kemungkinan, tetapi belajar percaya bahwa Tuhan sendiri memelihara mereka.Demikian pula keluargaku. Mereka tidak dibebani oleh cerita-cerita kecil tentang suka duka hidup membiara yang mungkin belum tentu mereka pahami. Mereka menyerahkan semuanya kepada Tuhan dalam doa.

Kini keadaannya sangat berbeda. Para calon datang dari dunia yang sudah sangat akrab dengan gawai. Segala sesuatu dapat diketahui dalam hitungan detik. Perasaan mudah diungkapkan. Keadaan keluarga, komunitas, bahkan berbagai persoalan dengan cepat sampai ke tangan kita. Sering informasi yang begitu banyak justru melahirkan kecemasan, ketakutan, prasangka, bahkan mengganggu ketenangan hati dan fokus panggilan.

Merenung semua ini, aku semakin mengerti kebijaksanaan Faustina. Yang ingin dijaganya bukan semata-mata aturan tentang surat-menyurat, melainkan kebebasan hati agar tetap terarah kepada Allah. Aku tidak ingin kembali ke masa tanpa teknologi. Namun aku rindu memiliki kembali hati yang tenang seperti dahulu: hati yang lebih mudah percaya, lebih mudah berserah, dan lebih tekun membawa segala sesuatu kepada Tuhan. Doa tidak menciptakan tembok yang memisahkanku dari orang-orang yang kukasihi. Doa justru menjadi pagar yang menjaga kasih tetap murni dan terarah. Dalam doa, hati tetap dipersatukan meskipun berjauhan bahkan tidak ada komunikasi. Sebab saya percaya, dua hati yang sama-sama percaya pada Tuhan, dan berdoa, seolah ada ikatan batin yang membuat hati nyaman tenang dan damai. Dalam doa, juga dapat belajar menerima kenyataan hidup dengan damai karena percaya bahwa Allah bekerja jauh melampaui apa yang dapat dipikirkan, dirasakan dan dilihat.

Aku refleksi diri : Apakah aku lebih cepat membuka telepon genggam daripada membuka hatiku kepada Tuhan, dengan dialog singkat dan doa sederhana kala aku sekilas mengingat mereka? Apakah komunikasi dengan manusia perlahan mulai mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik Allah? Terima kasih Faustina, tulisan cintamu hari ini untukku begitu mempesona. Doakan kami.semua agar hati selalu terarah kepada Allah, dengan doa, syukur dan matiraga. Kiranya Allah berkenan akan semua itu karena kasih kerahiman-Nya. Yesus, Engkau andalanku.