Ya Yesus, buatlah hatiku menjadi seperti Hati-Mu atau lebih tepat ubahlah hatiku menjadi Hati-Mu sendiri sehingga aku dapat merasakan kebutuhan-kebutuhan hati orang lain, khususnya mereka yang bersedih dan menderita. Semoga sinar kerahiman bersemayam di dalam hatiku. BHF 514
Ya Yesus, ubahlah hatiku menjadi Hati-Mu sendiri sehingga aku dapat merasakan kebutuhan hati orang lain, khususnya mereka yang bersedih dan menderita. Semoga sinar kerahiman bersemayam di dalam hatiku.”* Menarik sekali doa Faustina ini. Umumnya kita sering berdoa, “Tuhan, jadikanlah hatiku seperti Hati-Mu, yang lemah lembut dan rendah hati.” Tetapi Faustina melangkah lebih dalam. Tujuannya sangat jelas: supaya ia dapat merasakan kebutuhan hati orang lain, khususnya mereka yang bersedih dan menderita. Mengetahui kebutuhan orang lain tidak terlalu sulit. Melihat orang lain yang sedang menderita pun cukup mudah. Tetapi ikut merasakan kebutuhan hati orang lain, itu berbeda. Tampaknya tidak banyak orang mampu melakukannya.
Saya tertegun merenungkan doa ini, sebab Faustina menyebut kebutuhan hati orang lain. Mudah mengenali kebutuhan lahiriah, yang kelihatan secara jasmani dan material. Orang lapar butuh makanan, orang sakit butuh obat, orang miskin butuh bantuan. Tetapi untuk melihat, mengenali, bahkan merasakan kebutuhan hati seseorang, sungguh tidak mudah. Dibutuhkan rahmat yang besar, kepekaan jiwa, dan hati yang dipenuhi kasih Allah.
Karena itu Faustina memohon, “Semoga sinar kerahiman-Mu bersemayam di dalam hatiku.”
Ya… hanya hati yang diterangi kerahiman Allah yang mampu melihat lebih dalam daripada sekadar tampilan luar manusia.
Apa kebutuhan hati seseorang? Terutama yg sedang sedih dan menderita. Saya kira
setiap hati sesungguhnya membutuhkan cinta. Kehilangan cinta, seolah kehilangan segalanya. Orang boleh hidup dalam kekurangan harta, keterbatasan sarana, pendidikan yang minim, bahkan penderitaan lahiriah, tetapi jika hatinya masih mengalami cinta, ia masih mampu bertahan. Sebaliknya, ketika seseorang merasa tidak dicintai, tidak dipahami, tidak dianggap, betapa merananya jiwa dari orang yg di dekatnya dan seharusnya? Hati menjadi hampa, dingin, dan perlahan kehilangan harapan hidup.
Faustina secara khusus menyebut mereka yang bersedih dan menderita. Sebab sering kali penderitaan terdalam manusia bukan hanya penderitaan fisik, tetapi penderitaan hati: merasa sendirian, ditolak, tidak dipedulikan, tidak dimengerti, atau kehilangan kasih. Saya harus terus belajar memghidupkan kepekaan rasa dan hatiku, agar memiliki hati seperti Hati Yesus berarti memiliki hati yang peka, yang mampu berhenti sejenak untuk sungguh melihat dan mendengarkan sesama dan berani bertindak yang menyelamatkan.
Tuhan, ubahlah juga hatiku menjadi seperti Hati-Mu, agar aku tidak hanya melihat dengan mata, tetapi juga mampu merasakan dengan hati. Semoga sinar kerahiman-Mu sungguh tinggal dan bersemayam dalam hatiku.
Yesus, Engkau andalanku.
Recent Comments